I wasn't born to be perfect, I was born to be myself and that's all I'll ever be. I'm not perfect, I'm not meant to be, I'm me and I'm gonna be what I wanna be.

Sabtu, 16 Februari 2013

Lebih baik terluka demi sahabat.


Lebih baik terluka demi sahabat.

tugas TIK.
Cerpen.
Posting ke blog. 

By: @Renasvr

Viola Karunia. Itulah namaku. Biasa di pangilViola. Aku adalah seorang remaja yang baru berusia 14 tahun. Aku masih duduk dikelas 3 SMP. Di sekolah iniaku memiliki sahabat yang sangat amat baik,yaitu Sifa dan Karen. Hubungan kami sangat amat baik, apalagi kami sekelas dari kelas 1 sampai kelas 3 ini.
Saat itu aku duduk sebangku dengan Sifa. Sedangkan Karen duduk di depan kami dengan temanku yang lainnya namanya Ira. Kami bertiga sangat amat kompak, ke sana ke mari selalu bersama layaknya saudara saja. Suatu saat ketika aku,Sifa dan Karen sedang asik mengobrol, tiba-tiba Sifa melihat anak cowok yang menarik perhatiannya. Ternyata cowok itu anak baru dikelas kami,namanya Billi ia pacarku murid pindahan dari Bandung. Huh aku sangat tidak menyangka kalau Billi memang benar jadi pindah ke Bekasi,aku kira ia bercanda selama ini. Akan tetapi kenapa dia tidak memberitahuku kalau dia jadi pindah? Huh menyebalkan. Aku pun masih shock kaget bukan kepalang. Saat itu juga perasaanku jadi campur aduk sekali antara kesal,bingung dan ingin marah kepada Sifa-_-.
Sifa pun berbicara kepadaku dengan manisnya dan sangat polosnya dia bilang “Vi,murid baru itu ganteng sekali vi! Nampaknya aku menyukainya vi,hehe”. Hatiku tersentak, ingin memarahinya. Tapi, aku tak bisa melakukannya. Aku hanya bisa diam, dan aku pun hanya berbicara “oh gitu hehe” dan menanggapinya dengan wajah yang jutek.“Vi, kamu kenapa? Bukankah cowok itu sangat tampan? Andaikan aku bisa jadi pacarnya, sungguh senang diriku… Benar kan Vi,Ren?,” tanya Safa padaku dan Karen. Aku tak bisa menjawabnya. Aku hanya bisa tersenyum sengit padanya dan Karen menjawabnya “Iya benar fa! Cowok itu sangat tampan,tapi sungguh aku tidak tertarik padanya”.

***
Saat pulang sekolah, aku dan Sifa mampir ke toilet, karena Sifa inginbuang air kecil. Aku pun menunggunya di depan toilet. Tiba-tiba terlintas di depanku seorang yang tinggi, gagah, putih dan tampan. Ia Billi. Billi menyapaku layaknya seorang kekasih.
“Hai say, ngapain di sini? Nunggu aku yah? Hehe,” Billi berkata dengan PD nya.
“Ih, apaan sih. Ini lagi nunggu temen. Udah, kamu pergi gih. Entar temenku denger lagi! Nanti kamu sms aku yah? hehe .” Kataku tersenyum manis dan agak sedikit jutek padanya.
“Iya-iya. See you baby,” kata Billi menebar pesona.
“See you too” kataku.

Aku dan Billi sudah berpacaran sedari kelas 2 SMP ia sahabatku dulu di SD. Tak lama, Sifa keluar dari toilet dan bertanya padaku.
“Tadi kamu ngomong sama siapa? Kok kayaknya romantis banget sih Vi?,”
“Enggak tau, tadi ada anak cowok ama cewek disini,” Jawabku menyembunyikan fakta.

***
Sesampainya di rumah, aku pun langsung merauk HP ku untuk segera smsan denganBilli. Ku buka sms dari Billi, dan ku balas tidak seperti biasanyaa, aku marah dan bertanya kenapa ia tidak memberitahuku terlebih dahulu kalau memang dia ingin pindah ke Bekasi,huh. Aku pun menceritakan kepadanya bahwa sahabatku suka dengannya. Billi puntak menanggapinya dan membiarkannya. Kata Billi, ia tetap mencintaiku.

***
Semakin hari, Sifa pun semakin terpikat oleh paras Billi yang begitu tampan dan menawan. Ia jatuh hati pada Billi. Aku pun semakin panas dan cemburu. Tapi aku tak rela mengatakan bahwa Billi adalah pacarku sejak 2 SMP. Dengan ketegaran hati, ketika ia meminta nomor HPBilli, aku menyerahkannya. Itu ku lakukan demi sahabatku. Aku tak mau sahabatku terluka karenaku. Toh siapa saja boleh saling menyukai. Bukankah begitu?
Di luar dugaan, ternyata Sifa dan Billi sering sekali smsan. Apalagi ku buka inbox HP Billi, ternyata banyak pernyataan mengenai pacar, cinta dll. Parahnya, Billi mengaku masih jomblo. Aku langsung lari dan meneteskan airmata kepedihan yang mendalam.
“Kau anggap apa aku ini?!!! Jadi, selama ini kau tak menganggapku pacar!!!,” kataku sambil meneteskan airmata sebelum meninggalkannya.
Billi pun berusaha mengejarku untuk menenangkan dan menjelaskan padaku. Tapi Billi tak mampu mengejarku karena aku sudah terlanjur jauh meninggalkannya kembali ke rumah mengurung di kamar tercinta.
Handphoneku terus berdering, itu mungkin dariBilli. Aku tak meresponnya, malah mematikan hpku itu. Aku terlanjur sakit hati padanya. Seiring berjalannya waktu, aku menjauhi Billi meskipun ia selalu menghampiriku di sekolah.

Seminggu berlalu, aku masih terbungkam membisu. Dan ku putuskan, untuk mengakhiri hubunganku dengan Billi. Tadinya Billi menyesal karena ia telah  berbuat seperti itu padaku, ia tak rela diputuskan olehku. Namun, ini harus ku lakukan. Billi pun semakin mengerti betapa tulusnya cintaku padanya. Lalu, ku ceritakan semua kepada Sifa, sahabatku. Ia tak menyangka aku merelakan Billi hanya demi dirinya. Ia pun menangis malu padaku seolah ia merasa bersalah padaku. Tapi itu telah berlalu, lupakanlah.
Keyakinanku setelah putus dengan Billi adalah menyatukan cinta Sifa padanya. Aku menjelaskan pada Billi, bahwa Sifa sangat mencintainya. Melalui sms ku yang terakhir, aku memohon pada Billi agar ia jangan pernah menyakiti hati Sifa.
To : Billi
"Bil, mungkin ini yang terbaik untuk kita. Jika kamu masih sayang padaku, aku minta kamu menjadi kekasih Sifa dan jangan pernah sedikitpun kamu menyakiti hatinya. Thanks. This is my last messages for u Bil. Makasih ya sebelumnya udah pernah mengisi harihariku selama ini :-)"

Setelah beberapa hari, mereka pun jadian. Billi tak tega padaku. Ia tahu kini hatiku sedang terluka dan cemburu melihatnya dan Sifa pacaran. Tetapi, itulah kemauanku. Walaupun ia belum mencintai Sifa, dan masih mencintaiku. Aku tetap memohon kepadanya untuk mencintai Sifa sepenuhnya dari hatinya yang paling dalam. Semoga apa yang ku lakukan mendapatkan hidayah dan diganti dengan yang lebih baik olehNya. Amin….
“Lebih baik terluka, daripada harus melihat sahabatnya sendiri lebih terluka karenanya”


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar